Sesak Napas di Tengah Kabut Asap, Guru 29 Tahun Meninggal Dunia, Tangis Sang Ibu Pecah

 



SIPALINGKALSEL.COM, BANJARMASIN - Tangis Marhamah pecah saat mengenang malam terakhir putrinya, Lisnani, seorang guru berusia 29 tahun yang meninggal dunia setelah mengalami sesak napas berat.

Di tengah kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan, kondisi kesehatan Lisnani yang memiliki riwayat asma disebut semakin memburuk dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, tak ada yang menyangka Sabtu malam itu menjadi malam terakhir bagi Lisnani.

Menurut Marhamah, kondisi putrinya masih terlihat sehat setelah menunaikan salat Magrib. Tidak ada tanda-tanda bahwa kondisi kesehatannya akan memburuk.

Situasi berubah setelah salat Isya.

Lisnani tiba-tiba mengalami sesak napas hebat disertai rasa sakit di bagian dada. Ia kemudian meminta ibunya memberikan obat.

“Habis Isya itu langsung sesak. Habis itu minta diobakan. ‘Mak, ulun sakit dada, ulun napasnya sesak,’” tutur Marhamah lirih, Selasa (6/10/2026).

Marhamah kemudian memberikan obat kepada putrinya. Namun, sesak napas yang dialami Lisnani tak kunjung mereda.

Satu botol obat telah digunakan, tetapi kondisinya tetap tidak membaik. Obat kembali dibeli, namun sesak napas tersebut masih terus terjadi.

“Sudah satu botol obatnya tidak berhenti juga. Habis itu dibelikan lagi satu botol, tidak berhenti jua sesaknya,” ujarnya.

Marhamah menduga kondisi tersebut berkaitan dengan asma yang diderita putrinya dan kemungkinan diperburuk oleh paparan kabut asap.

Selama sekitar sepekan sebelum meninggal dunia, Lisnani disebut harus menjalani aktivitas di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap.

Setiap hari, ia tetap menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari rumah menuju tempatnya mengajar di SDN Tanjung Pagar 3.

Menurut Marhamah, paparan asap bahkan sudah dirasakan sejak putrinya keluar dari rumah hingga tiba di sekolah.

“Mulai muka rumah nih kan sudah sampai ke sekolahan, asap aja yang dilewati itu,” katanya.

Asap Tebal, Asma Makin Sering Kambuh

Marhamah mengatakan kondisi kabut asap tahun ini dirasakan jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dalam sekitar satu pekan terakhir, penggunaan obat untuk mengendalikan asma Lisnani juga disebut semakin rutin.

Lisnani bahkan beberapa kali meminta izin tidak masuk sekolah ketika asmanya kambuh. Pihak sekolah disebut memahami kondisinya dan memberikan izin untuk beristirahat.

Namun, pada kondisi tertentu, Lisnani tetap memilih berangkat mengajar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian keluarga. Terlebih, saat itu pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah diberlakukan bagi siswa, sementara para guru masih harus menjalankan aktivitas di sekolah.

Bagi keluarga, situasi itu menimbulkan pertanyaan mengenai perlindungan kesehatan tenaga pendidik ketika kualitas udara sedang buruk.

Marhamah berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan keselamatan siswa, tetapi juga memastikan guru yang tetap menjalankan tugas mendapatkan perlindungan kesehatan.

“Mudah-mudahan pemerintah bijaksana menanggapi ini. Jangan anak muridnya aja yang disuruh PJJ. Guru-gurunya kan bisa kesehatannya dijaga jua,” harapnya.

Dinas Pendidikan setempat disebut telah mendatangi rumah keluarga untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Lisnani.

Tinggalkan Anak yang Masih Berusia Lima Tahun

Kepergian Lisnani meninggalkan luka yang lebih dalam bagi keluarga. Ia meninggalkan seorang anak yang baru berusia lima tahun dan masih duduk di bangku TK.

Sang anak disebut belum sepenuhnya memahami bahwa ibunya telah meninggal dunia.

Ia masih mencari keberadaan sang ibu di rumah.

“Anaknya masih mencari mamanya. Kalau paham mamanya sudah kada ada lagi, kada mencari lagi. Cuma kalau menangis, ya kayak itu,” ujar Marhamah.

Kini, keluarga harus menghadapi kehidupan tanpa sosok Lisnani.

Di usia yang baru 29 tahun, ia pergi meninggalkan seorang anak yang masih membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan pendampingan seorang ibu.

Kisah Lisnani juga menjadi sorotan di tengah persoalan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.

Bagi keluarga, kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ketika kualitas udara memburuk, kelompok rentan seperti penderita asma membutuhkan perlindungan lebih.

Keluarga pun berharap kondisi serupa tidak kembali menimpa tenaga pendidik maupun masyarakat lainnya yang harus tetap beraktivitas di tengah buruknya kualitas udara. (Nika/Sa)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال